Umroh Akhir Ramadhan Lailatul Qodar

Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami. umroh plus turki Cipayung

Setelah asyik bermain di pantai tepatnya di Pulau Untung Jawa di bulan Maret 2013 lalu, perjalanan selanjutnya di bulan April 2013 AK dan beberapa teman mengadakan trip menuju Taman Wisata Cibodas dan sekitarnya. Berikut catatan perjalanannya :

Sabtu pagi setelah menunaikan sholat shubuh beberapa teman yang ikut dalam trip ini sudah berkumpul di star point yang ditentukan, beberapa lagi masih ada saja yang belum hadir dikarenakan sibuk dengan barang bawaan. Setelah semuanya kumpul dengan jumlah 8 orang dan mobil Innova serta sopirnya yang udah di booking sebelumnya siap untuk menuju Taman Wisata Cibodas.

Tepatnya jam 5.30 pagi AK dan teman - teman sudah berangkat menuju Taman Wisata Cibodas, hal ini dilakukan agar kami lebih cepat sampai ke sana dan tidak terjebak macet di jalur puncak Bogor. AK dan teman - teman  menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dengan diiringi musik pilihan yang telah disediakan, mengobrol sambil menikmati beberapa makanan yang dibawa oleh teman teman cukup untuk menghilangkan suntuk dan bete serta agar suasana menjadi nyaman.

Perjalanan ditempuh sekitar 2 setengah jam dari Jakarta Barat, walaupun sempat kelewat sampai Cipanas karena asyiknya suasana di dalam mobil hingga tidak ada yang perhatikan tanda masuk ke Cibodas. Setelah berbalik arah, mobil pun memasuki kawasan Wisata Cibodas sekitar pukul 8 pagi saat itu.

Setelah membayar dipintu masuk seharga Rp. 9.500/ orang dan 16 ribu untuk mobilnya, kami pun mengitari dengan mobil  beberapa tempat yang asyik di kawasan ini. Akhirnya kamipun sepakat untuk memarkir mobil di parkiran menuju Air terjun Ciismun di kawasan Cibodas ini.

Perjalanan dari parkir mobil menuju air terjun Ciismun ditempuh sekitar setengah jam, melihat indahnya air terjun dan bermain air menjadi semangat kami untuk terus melangkah agar sampai ke tujuan. Dan beberapa momen yang tidak terlewatkan kami abadikan berikut ini :

Terpana adalah kata yang pas buat perasaan kami saat sampai di air terjun Ciismun ini, air terjun yang tersembunyi ini sangat memukau penglihatan kami kala itu, ditambah suasana pagi yang sepi saat itu serasa hanya kami yang menikmati keindahan air terjun Ciismun ini.  Beberapa dari kami langsung bermain air di air terjun ini, beberapa yang lain menikmati pemandangan air terjun yang memukau sambil mencari spot untuk berphoto ria.

Setelah kurang lebih 1 jam di air terjeun Ciismun, kami pun bersiap - siap untuk melakukan perjalanan kembali ke area parkir mobil, karena lelahnya perjalanan saat itu kami pun siap untuk  menikmati makan siang yang kami bawa dari rumah sambil menikmati hijaunya alam Cibodas.

Setelah menikmati makan siang kami kembali mengelilingi kawasan Cibodas dengan mobil, beberapa saat mobil berhenti agar kami bisa menikmati  hamparan  taman hijau yang  luas  atau pemandangan kolam air mancur yang indah serta gunung dan pohon pohon yang rindang.

Sebenarnya masih banyak area menarik di kawasan ini yang belum sempat kami kunjungi namun karena waktu sudah siang dan kami ingin melanjutkan perjalanan selanjutnya, kami pun segera menuju pintu keluar 2 dari kawasan Cibodas menuju parkiran air terjun Cibereum yang dekat dengan pintu masuk wisata Mandalawangi di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Namun sebelumnya kami santai sejenak di area parkir sambil menikmati beberapa jajanan yang ada di area ini, melaksanakan sholat dan bersih bersih di wc yang ada di area ini dengan membayar Rp. 2000 untuk buang air kecil dan Rp. 3000 untuk mandi dan buang air besar.

Sekitar kurang lebih pukul 13.00 kami pun mulai perjalanan menuju air terjun Cibereum yang berada 1.675 diatas permukaan laut ini harus kami daki sekitar 1 jam. Setelah membayar tiket di pintu masuk Rp. 2.500/ orang kami pun mulai memasuki jalan berbatu di tengah hutan.

Perjalanan menuju air terjun Cibereum ini amat sangat melelahkan, melewati hutan yang gelap walau kadang ada jalan yang sudah bagus. Sesaat berjalan kami harus istirahat sejenak untuk menghilangkan rasa lelah dan letih seraya memberi semangat kepada teman teman untuk sampai ke tujuan.

Setelah berjuang sepanjang jalan dengan keringat yang bercucuran, akhirnya air terjun Cibereum dapat kami taklukan. Kami pun hanya bisa bengong  melihat indahnya alam yang mempesona ini dan ternyata ada 2 air terjun lain yang berdekatan dengan air terjun Cibereum ini.  Sungguh menakjubkan, kami pun tak lupa mengabadikan momen ini.

Perasaan bangga dan bahagia bersatu dalam jiwa kami saat berada di tempat yang jauh ini, rasa lelah dan letih seakan sirna dengan sampainya kami di tempat ini. Kami pun mulai menikmati  suasana ramai saat itu, sesekali bermain air dan makan makanan yang kami sudah siapkan.

Ketika waktu sudah sore, kamipun mulai melangkah turun menuju parkiran mobil, sesampainya disana dan sebelum meninggalkan kawasan wisata tak lupa kami membeli beberapa oleh - oleh seperti sandal, kaos, tas, makanan ringan dan sayur - sayuran dengan harga terjangkau tentunya.

Akhirnya usai sudah perjalanan kali ini, mobilpun bergegas menuju Jakarta, sesaat kami berhenti di kawasan Puncak Bogor untuk sejenak menikmati indahnya hamparan kebun teh di Kawasan Wisata Gunung Mas. Demikian

TAMAN WISATA CIBODAS

BALTIMORE — In the afternoons, the streets of Locust Point are clean and nearly silent. In front of the rowhouses, potted plants rest next to steps of brick or concrete. There is a shopping center nearby with restaurants, and a grocery store filled with fresh foods.

And the National Guard and the police are largely absent. So, too, residents say, are worries about what happened a few miles away on April 27 when, in a space of hours, parts of this city became riot zones.

“They’re not our reality,” Ashley Fowler, 30, said on Monday at the restaurant where she works. “They’re not what we’re living right now. We live in, not to be racist, white America.”

As Baltimore considers its way forward after the violent unrest brought by the death of Freddie Gray, a 25-year-old black man who died of injuries he suffered while in police custody, residents in its predominantly white neighborhoods acknowledge that they are sometimes struggling to understand what beyond Mr. Gray’s death spurred the turmoil here. For many, the poverty and troubled schools of gritty West Baltimore are distant troubles, glimpsed only when they pass through the area on their way somewhere else.

Photo
 
Officers blocked traffic at Pennsylvania and West North Avenues after reports that a gun was discharged in the area. Credit Drew Angerer for The New York Times

And so neighborhoods of Baltimore are facing altogether different reckonings after Mr. Gray’s death. In mostly black communities like Sandtown-Winchester, where some of the most destructive rioting played out last week, residents are hoping businesses will reopen and that the police will change their strategies. But in mostly white areas like Canton and Locust Point, some residents wonder what role, if any, they should play in reimagining stretches of Baltimore where they do not live.

“Most of the people are kind of at a loss as to what they’re supposed to do,” said Dr. Richard Lamb, a dentist who has practiced in the same Locust Point office for nearly 39 years. “I listen to the news reports. I listen to the clergymen. I listen to the facts of the rampant unemployment and the lack of opportunities in the area. Listen, I pay my taxes. Exactly what can I do?”

And in Canton, where the restaurants have clever names like Nacho Mama’s and Holy Crepe Bakery and Café, Sara Bahr said solutions seemed out of reach for a proudly liberal city.

“I can only imagine how frustrated they must be,” said Ms. Bahr, 36, a nurse who was out with her 3-year-old daughter, Sally. “I just wish I knew how to solve poverty. I don’t know what to do to make it better.”

The day of unrest and the overwhelmingly peaceful demonstrations that followed led to hundreds of arrests, often for violations of the curfew imposed on the city for five consecutive nights while National Guard soldiers patrolled the streets. Although there were isolated instances of trouble in Canton, the neighborhood association said on its website, many parts of southeast Baltimore were physically untouched by the tumult.

Tensions in the city bubbled anew on Monday after reports that the police had wounded a black man in Northwest Baltimore. The authorities denied those reports and sent officers to talk with the crowds that gathered while other officers clutching shields blocked traffic at Pennsylvania and West North Avenues.

Lt. Col. Melvin Russell, a community police officer, said officers had stopped a man suspected of carrying a handgun and that “one of those rounds was spent.”

Colonel Russell said officers had not opened fire, “so we couldn’t have shot him.”

Photo
 
Lambi Vasilakopoulos, right, who runs a casual restaurant in Canton, said he was incensed by last week's looting and predicted tensions would worsen. Credit Drew Angerer for The New York Times

The colonel said the man had not been injured but was taken to a hospital as a precaution. Nearby, many people stood in disbelief, despite the efforts by the authorities to quash reports they described as “unfounded.”

Monday’s episode was a brief moment in a larger drama that has yielded anger and confusion. Although many people said they were familiar with accounts of the police harassing or intimidating residents, many in Canton and Locust Point said they had never experienced it themselves. When they watched the unrest, which many protesters said was fueled by feelings that they lived only on Baltimore’s margins, even those like Ms. Bahr who were pained by what they saw said they could scarcely comprehend the emotions associated with it.

But others, like Lambi Vasilakopoulos, who runs a casual restaurant in Canton, said they were incensed by what unfolded last week.

“What happened wasn’t called for. Protests are one thing; looting is another thing,” he said, adding, “We’re very frustrated because we’re the ones who are going to pay for this.”

There were pockets of optimism, though, that Baltimore would enter a period of reconciliation.

“I’m just hoping for peace,” Natalie Boies, 53, said in front of the Locust Point home where she has lived for 50 years. “Learn to love each other; be patient with each other; find justice; and care.”

A skeptical Mr. Vasilakopoulos predicted tensions would worsen.

“It cannot be fixed,” he said. “It’s going to get worse. Why? Because people don’t obey the laws. They don’t want to obey them.”

But there were few fears that the violence that plagued West Baltimore last week would play out on these relaxed streets. The authorities, Ms. Fowler said, would make sure of that.

“They kept us safe here,” she said. “I didn’t feel uncomfortable when I was in my house three blocks away from here. I knew I was going to be O.K. because I knew they weren’t going to let anyone come and loot our properties or our businesses or burn our cars.”

Baltimore Residents Away From Turmoil Consider Their Role

Artikel lainnya »