Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami. travel umroh akhir ramadhan Pandeglang

saco-indonesia.com, Komisi Pemberantasan Korupsi telah kembali menyita kendaraan yang diduga terkait dengan modus pencucian uang mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar. Kali ini, penyidik telah menyita 31 sepeda motor dari berbagai tipe dan merek dari kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, diduga dari hasil pencucian uang Akil.

"Malam ini telah dilakukan penyitaan 31 sepeda motor dari berbagai merek," kata Juru Bicara KPK, Johan Budi.

Menurut Johan, yang berusia 31 tahun kuda besi itu diduga telah di bawah kepemilikan dan penguasaan Mochtar Ependy. Mochtar diketahui adalah salah satu orang dekat Akil, dan diduga telah menjadi pihak yang turut aktif membantu Akil melakukan pencucian uang.

Menurut Johan, seluruh sepeda motor itu telah disita dari rumah atau tempat di kawasan Cempaka Putih. "Rencananya malam ini motor-motor itu akan dibawa ke kantor KPK," ujar Johan.

Sebelumnya, KPK juga sudah menyita puluhan mobil dari berbagai merek dan tipe, juga terkait dengan pencucian uang Akil Mochtar. Mobil-mobil itu terjejer rapi di halaman parkir Gedung KPK. Selain itu, lembaga antikorupsi itu juga telah menyita sejumlah tanah serta tanah dan bangunan juga diduga terkait pencucian uang mantan politikus Partai Golkar itu.


Editor : Dian Sukmawati

31 MOTOR AKIL DISITA KPK

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »