Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami. promo umroh november di Jakarta Barat
Pasangan sejoli yang telah membunuh mantan pacar belum bisa dijenguk keluarga maupun rekan-rekannya. Ini telah dikatakan oleh Kasubag Humas Polresta Bekasi Kot AKP Siswo. Belum mendapat ijin untuk dijenguk karena petugas juga masih terus memintai keterangan sepasang sejoli ini. Tersangka Hafitd dan pasangannya Assyifa tidur terpisah di ruang jatanras. “Nanti kalau pemeriksaan sudah lengkap, kemungkinan baru bisa dijenguk,” tukas AKP Siswo. Hafitd yang berusia 19 tahun , telah berhasil ditangkap oleh petugas Polresta Bekasi Kota saat menghadiri korban Ade yang jasadnya berada di ruang kamar jenasah RSCM. Pelaku yang berpura-pura sedih ditangkap petugas lalu diperiksa. Hasil pemeriksaan tersangka mengakui menghabisi nyawa Ade bersama kekasihnya Assyifa. Assifa kemudian diamankan di kampusnya, kawasan Pulomas, Jakarta Timur. Pertistiwa tragis itu telah terjadi lantaran sepasang kekasih itu menaruh rasa sakit hati dan dendam pada korban. Rencana seminggu sebelumnya dibuat kedua sejoli ini untuk dapat menghabisi nyawa korban. Saat korban dijemput di depan Stasiun Gondang Dia, para tersangka langsung menganiaya hingga korban tewas dan dibuang di jalan Tol KM 49 Bintara. SEJOLI PEMBUNUH SARA BELUM BISA DIJENGUK

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »