umroh mei

Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami. harga umroh november di Banten

saco-indonesia.com, Petugas Buru Sergap (Buser) Polres Kediri telah berhasil meringkus gembong pencuri sepeda motor (curanmor) asal Kabupaten Tulungagung.

Pelaku yang juga merupakan residivis kambuhan yang sudah lima kali keluar-masuk lembaga permasyarakatan (lapas) di Eks Karesidenan Kediri.

Pelaku yang bernama Khanafi, berusia 35 tahun , berasal dari Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Pelaku ndelosor (tersungkur), setelah kaki kirinya tertembus timah panas petugas.

Kasat Reskrim Polres Kediri, AKP Edi Herwiyanto telah mengatakan, pelaku juga sempat dibuntuti selama tiga hari. Dia baru saja menggasak sepeda motor Yamaha Vega AG 2891 BD di Eks Lokalisasi Waru, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, pada 17 Desember 2013 lalu

“Pelaku kita buntuti sejak dari Tulungagung melalui signal HP milik korban yang tertinggal di bawah jog sepeda motor hasil curian,” ujar AKP Edi Herwiyanto di Rumah Sakit Bhayangkara Kota Kediri.

Petugas juga membekuk pelaku di kawasan Kecamatan Kandat. Tetapi karena pelaku melawan, tegas Edi, akhirnya petugas melepaskan tembakan ke arah kaki kirinya.

Seketika pelaku tersungkur. Dia kemudian dilarikan ke RS Bhayangkara Kota Kediri. Saat ini, pelaku juga tengah menjalani operasi pengangkatan proyektil peluru yang bersarang di kakinya.

Edi juga menambahkan, pihaknya tengah mengembangkan kasus pencurian yang dilakukan pelaku. Ia juga memastikan, pelaku juga merupakan gembong curanmor karena sudah lima kali keluar masuk Lapas dalam kasus yang sama.

Masih kata Edi, pelaku ditengarai bagian dari jaringan curanmor yang baru saja diungkap Polda Jatim. Polres Kediri langsung melakukan koordinasi untuk dapat memastikannya.


Editor : Dian Sukmawati

RESIDIVIS CURANMOR DITEMBAK OLEH POLISI
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »