umroh

Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami. biaya umroh bulan agustus 2018

Terdakwa kredit fiktif Bank Tabungan Negara Syariah Makassar, Syarifuddin Azhari, dituntut 9 tahun penjara. Kata jaksa penuntut umum Greafik Loserte, Syarifuddin Azhari terbukti memanipulasi data debitur untuk pencairan kredit. Ia pun diharuskan membayar denda Rp 500 juta. Jika mangkir, masa tahanan bertambah 6 bulan. "Terdakwa tidak terbukti menikmati uang negara," ujar Greafik, Rabu, 1 Mei 2013.

Dalam materi tuntutan jaksa, Syarifuddin dinyatakan bertindak sebagai Direktur Operasional PT Aditya Rezeki Abadi (ARA), perusahaan jual-beli kendaraan bermotor. Anak buah Jusmin Dawi itu bertugas mencari calon nasabah dengan mengumpulkan kartu tanda penduduk, kartu keluarga, dan surat keterangan penghasilan. Data-data itu kemudian disetor ke bank sebagai syarat administratif pengurusan kredit kendaraan bermotor. "Sekitar 700 data nasabah disetor ke bank," kata Greafik.

Hasil setoran itu, PT ARA mendapatkan siraman dana segar sebesar Rp 73 miliar. Duit itu masuk ke rekening Jusmin Dawi, selaku pemilik perusahaan. Sedangkan pencairan kreditnya berlangsung sejak 2005 hingga 2009. Kata Greafik, pengajuan data itu adalah modus. Sebab, para nasabah tidak bermaksud mengajukan kredit. "Dan untuk kelancaran pengurusan administrasi, Syarifuddin memberikan imbalan kepada para calon nasabah, Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta," ujarnya.

Kredit fiktif ini terungkap setelah puluhan debitur tidak menunaikan kewajibannya. Hasil audit internal bank menemukan kredit macet mencapai Rp 44 miliar. Syarifuddin sendiri pernah menjadi buron Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. Menghilang selama hampir dua tahun, ia pun diringkus di kediaman pribadinya, Asrama Polisi Panaikang, Kecamatan Panakkukang, Makassar, September 2012.

ABDUL RAHMAN

Topik Terhangat:

Harga BBM | Susno Duadji | Gaya Sosialita | Ustad Jefry |Caleg

Berita Terpopuler:

Pengedar Sabu itu Ternyata Perwira Berprestasi

VIDEO Susno Duadji: Saya Tak Akan Lari

Jaksa Waspadai Pengawalan Bersenjata Susno

Kolonel ASB Memakai Sabu Sejak 2004

SBY: Harga BBM Naik kalau Ada Dana Kompensasi

DITUNTUT TERDAKWA KREDIT FIKTIF 9 TAHUN BUI
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »